Bawaslu NTB On The Move Hadir di SMKN 2 Mataram: Demokrasi Dimulai dari Lingkungan Sekolah
|
Momen kebersamaan Anggota Bawaslu NTB Hasan Basri (Rompi Putih Tengah) dengan siswa -Siswai SMKN 2 Mataram sebagai bagian dari edukasi kepemiluan.Bawaslu NTB On The Move
MATARAM, SAHABAT BAWASLU-Bawaslu NTB kembali menghadirkan program edukasi politik dan oebgawasan partisipatif melalui Bawaslu NTB On The Move. Kali ini, Bawaslu NTB hadir di SMKN 2 Mataram, Senin (25/8).
Kegiatan ini dilakukan saat kegiatan upacara bendera dan dihadiri langsung oleh Hasan Basri selaku Anggota Bawaslu NTB merangkap sebagai pembina upacara dalam kegiatan ini.
Kegiatan yang diikuti Siswa kelas X dan XI, dewan guru, serta tenaga kependidikan tersebut berlangsung dengan khidmat. Dalam amanatnya, Hasan Basri menyampaikan bahwa generasi muda merupakan pilar penting dalam keberlangsungan demokrasi di Indonesia. Ia menegaskan, walaupun sebagian besar siswa SMKN 2 Mataram masih berstatus sebagai pemilih pemula, kesadaran berdemokrasi harus dipupuk sejak dini.
“Hari ini kalian mungkin masih menjadi pelajar, tetapi sebentar lagi kalian akan menjadi pemilih. Masa depan bangsa ada di tangan kalian, dan itu dimulai dengan memahami arti penting demokrasi,†ungkap Hasan Basri.
Untuk mendekatkan makna demokrasi kepada siswa, Hasan mencontohkan praktik sederhana yang sudah akrab di lingkungan sekolah, yakni pemilihan ketua osis. Menurutnya, proses tersebut bukan hanya seremonial, tetapi juga ajang pembelajaran yang sangat berharga dalam menghadapi pemilu sesungguhnya kelak.
“Ketika kalian memilih ketua OSIS, di situlah sebenarnya kalian sedang berlatih berdemokrasi. Ada calon, ada visi misi, ada proses kampanye, bahkan ada pengawasan. Semua itu merupakan miniatur dari pemilu yang kita laksanakan di tingkat nasional,†jelasnya.
Ia menambahkan, bahkan dalam lingkup pemilihan OSIS sekalipun, siswa harus belajar menolak praktik politik yang tidak sehat, termasuk politisasi SARA.
“Bayangkan jika dalam pemilihan ketua OSIS kalian memilih hanya karena faktor suku, asal daerah, atau latar belakang keluarga. Itu tidak adil, dan itu bukan demokrasi yang sehat. Pilihlah karena visi, gagasan, dan kemampuan memimpin. Sama seperti dalam pemilu, kita harus menolak politisasi SARA karena itu hanya akan memecah belah,†tegasnya.
Hasan Basri juga mengingatkan bahaya sikap apatis dan golput (tidak menggunakan hak pilih) yang kerap terjadi di kalangan generasi muda. Ia menegaskan bahwa setiap suara sangat berharga dalam menentukan arah bangsa.
“Golput bukan pilihan yang bijak. Ketika kita tidak memilih, artinya kita menyerahkan masa depan bangsa kepada orang lain tanpa ikut bertanggung jawab. Hak pilih itu adalah wujud kemerdekaan kita, maka gunakanlah dengan bijak,†tegasnya.
Selain itu, ia menyoroti tantangan era digital. Menurutnya, generasi muda perlu memiliki literasi digital yang baik agar tidak mudah terjebak dalam hoaks dan disinformasi yang marak di media sosial, terutama menjelang pemilu.
“Kalian adalah generasi digital. Gunakan media sosial untuk hal-hal positif, sebarkan informasi yang benar, dan jadikan ruang digital sebagai wadah diskusi sehat, bukan tempat menyebar kebencian,†tambahnya.
Melalui Bawaslu On The Move Bawaslu NTB ingin menegaskan komitmen untuk mendekatkan nilai-nilai demokrasi kepada pelajar dan pemilih pemula. Program ini tidak hanya memberikan edukasi politik, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa demokrasi bukan sekadar kegiatan lima tahunan, melainkan tanggung jawab bersama yang harus dijaga sejak dini.
Dengan menghadirkan pengawas pemilu langsung ke sekolah-sekolah, diharapkan generasi muda NTB dapat tumbuh sebagai pemilih yang cerdas, berintegritas, dan siap menjaga demokrasi Indonesia agar tetap kokoh di masa depan.